Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerita Motivasi

Menerima Demam Rematik

Sebenarnya ketika kita sakit, bukan hanya fisik yang perlu kita jaga tapi psikologis pun perlu. Bahkan mental ini jauh lebih penting daripada obat.. Mungkin ada benarnya ketika orang bilang saya sensitif.. Tapi saya rasa semua orang yang pernah sakit dalam jangka waktu yang cukup lama pernah mengalami hal ini. Sering sekali mood saya naik turun dikarenakan sakit. Saya tahu banyak di luar sana yang jauh lebih banyak mengalami penderitaan dari saya. Ketika saya berjuang dengan demam rematik , mungkin ada readers yang berjuang dengan kanker, ginjal, ataupun penyakit berat lainnya. Pada bulan-bulan pertama divonis demam rematik, badan terasa pegal-pegal hampir setiap hari. Tentu ini mempengaruhi mood sehingga emosi sering sekali terganggu. Kesal bercampur dengan marah pada diri sendiri. Sampai suatu hari, ada satu bacaan blog yang cukup mengelitik.. Saya membaca blog seseorang yang divonis terkena penyakit autoimun (kalau tidak salah). Dia sering pingsan dan terlihat gejalanya cuku...

Turun Berat Badan Akibat Demam Rematik

Selama 5 bulan mencari penyebab demam saya, akhirnya semua terjawab sudah.. Banyak perubahan yang terjadi pada diri saya akibat demam rematik , baik secara fisik maupun psikologis. Mulai dari mood yang sering naik turun, sampai berat badan yang jauh turun. Ya.. berat badan saya sempat mengalami penurunan sebanyak 20 kilogram (dari 63 kg menjadi 43 kg) dalam beberapa bulan. Saat berat badan 43 kg, tentu ini menjadi nightmare tersendiri. Saya mudah cape.. Bahkan untuk keramas saya gemetar dan pelan-pelan sambil menghela napas. Mungkin ini karena penurunan berat badan mendadak, sehingga tubuh pun kaget. Sontak ini yang membuat semua orang khawatir.. Orang sekitar saya bahkan berpikir saya stress dengan pekerjaan baru saya. Semua akan tercengang saat sudah lama tak jumpa. Kata-kata yang sering terdengar adalah : “Kok lu sekarang kurus banget? Diet ?” Permasalahan berat badan ini cukup jadi peer tersendiri untuk saya karena mulai dari baju, celana, bahkan pakaian dalam harus saya...

Web Designer it's My Life

 Ada yang bilang kalau jalan hidup itu sudah digariskan oleh Tuhan, tapi sebagian lagi berpendapat kalau jalan hidup sebenarnya kitalah yang menentukannya. Menurut saya jalan hidup itu sudah digariskan oleh Tuhan dengan beberapa pilihan, tapi pada akhirnya kitalah yang menentukan jalan mana yang akan kita pilih. Sama halnya seperti saat saya memilih web design sebagai jalan hidup saya. Semuanya berawal dari ketidaksengajaan.. Saat itu saya duduk di semester 4 dan belajar Sistem Basis Data (SBD). Tugas akhir diberikan dosen untuk membuat sebuah website untuk masing-masing kelompok. Setelah saya pikir-pikir sepertinya inilah awal mulanya saya memilih jalan hidup saya sebagai web designer. Saya dan mungkin sekitar 3 orang teman tergabung dalam sebuah kelompok untuk membuat tugas akhir kami. Tapi sayangnya yang mengerti akan Dreamweaver dan database hanyalah satu orang. Karena he is a good friend , ada perasaan tidak enak karena melihatnya bekerja sendiri saat itu. Alhasil, say...

Passion??

Passion ? Apa yang ada di benak kalian kalo mendengar kata passion ? Awalnya saya termasuk orang yang meremehkan kata passion. “Perlukah kita kerja sesuai dengan passion kita? Seberapa pentingkah passion dalam menjalani karir?” Semua pertanyaan ini sering muncul di hati saya. Mungkin terdengar aneh.. Tapi ini kenyataan ketika saya belum tahu apa sebenarnya passion saya. Saya suka dengan design  yang cute sampai fashion . Tapi suka saja tidak akan ada gunanya! Tentu saja kita juga perlu bakat dalam hal design . Bakat? Entahlah.. Dulu nilai gambar saya saat sekolah bisa dibilang bagus. Teman-teman bahkan memuji gambar saya. Tapi sejak masuk kuliah IT, saya memutuskan untuk meninggalkan gambar. Ada istilah “Partice Make It Perfect” That’s right! Selama kuliah, saya sudah tidak pernah lagi melatih tangan dalam hal menggambar. Itulah yang membuat saya tidak bisa merasakan feel nya lagi. Ada perasaan tidak yakin dan tidak percaya diri dalam diri saya ketika menggambar. Dulu ket...